BAB 1:
BOOOM…
part 1
DONI, Caranya Salah – berarti SALAH
Mereka
bilang Doni pemain basket. Bukan. Pemain Bola. Bukan. Walau tubuh Doni Malik
180 sentimeter dan badannya kekar atletis, hidupnya jauh lebih hebat dari
sekedar olahragawan yang nasibnya sangat tidak jelas. Apalagi di negara macam
Indonesia ini.
Berkali-kali
Doni mencetak ‘dunk’ di pertandingan hari ini, hanya penghargaan sosial yang
dia dapatkan. Uang hanya 200 untuk sekedar ongkos. Berkali-kali Doni mencetak gol, yang didapat
tak jauh beda. Hanya penghargaan kecil dari penduduk lokal ditambah luka di
dengkul dan tulang kering.
Tujuan
Doni ada bukan untuk pendapat pujian dari manusia, apalagi uang. Dia ada untuk
mendapat pujian dari Sang Pencipta. Doni ada untuk menciptakan sesuatu yang
besar. Paling tidak BESAR sesuai dengan apa yang Doni yakini.
Setelah
selesai mencetak ‘dunk’ dan gol di lapangan, Doni punya misi serius. Di sebuah
kereta api eksekutif penuh gerombolan penjahat kelas kakap dan koruptor, Doni
harus meledakkan kereta itu. Ya, Doni akan menjadi pengatin di surga; istilah jeleknya, Doni
akan menjadi
pelaku bom bunuh diri.
Tiket
sudah dipesankan. Doni aman masuk ke stasiun. Tak seperti di bandara, keamanan
di stasiun kereta di Indonesia sangat mudah ditembus. Tak ada CT-scan, tak ada
pemeriksaan aneh-aneh. Hanya KTP dan tiket.
Misi dimulai: