Thursday, July 31, 2014

Interdico 2- Chapter 1, part 1

BAB 1: BOOOM…

part 1

DONI, Caranya Salah – berarti SALAH

Mereka bilang Doni pemain basket. Bukan. Pemain Bola. Bukan. Walau tubuh Doni Malik 180 sentimeter dan badannya kekar atletis, hidupnya jauh lebih hebat dari sekedar olahragawan yang nasibnya sangat tidak jelas. Apalagi di negara macam Indonesia ini.

Berkali-kali Doni mencetak ‘dunk’ di pertandingan hari ini, hanya penghargaan sosial yang dia dapatkan. Uang hanya 200 untuk sekedar ongkos.  Berkali-kali Doni mencetak gol, yang didapat tak jauh beda. Hanya penghargaan kecil dari penduduk lokal ditambah luka di dengkul dan tulang kering.

Tujuan Doni ada bukan untuk pendapat pujian dari manusia, apalagi uang. Dia ada untuk mendapat pujian dari Sang Pencipta. Doni ada untuk menciptakan sesuatu yang besar. Paling tidak BESAR sesuai dengan apa yang Doni yakini.
Setelah selesai mencetak ‘dunk’ dan gol di lapangan, Doni punya misi serius. Di sebuah kereta api eksekutif penuh gerombolan penjahat kelas kakap dan koruptor, Doni harus meledakkan kereta itu. Ya, Doni akan menjadi pengatin di surga; istilah jeleknya, Doni akan menjadi pelaku bom bunuh diri.


Tiket sudah dipesankan. Doni aman masuk ke stasiun. Tak seperti di bandara, keamanan di stasiun kereta di Indonesia sangat mudah ditembus. Tak ada CT-scan, tak ada pemeriksaan aneh-aneh. Hanya KTP dan tiket.

Misi dimulai: